ditulis : 2 Desember 2015
diedit : 28 Februari 2017
===
1. Pengertian Knowledge Management
Manajemen pengetahuan (knowledge
management) ialah suatu proses organisasi dalam mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan
mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari. Proses ini terkait dengan objektif organisasi
dan ditujukan untuk mencapai suatu hasil tertentu (pengetahuan bersama,
peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih
tinggi).
Konsep manajemen pengetahuan ini
meliputi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI) yang dalam tujuannya untuk mencapai organisasi perusahaan yang semakin baik sehingga
mampu memenangkan persaingan bisnis. Perkembangan teknologi informasi memang
memainkan peranan yang penting dalam konsep manajemen pengetahuan. Hampir semua
aktivitas kehidupan manusia akan diwarnai oleh penguasaan teknologi informasi.
Pada perkembangan ini menunjukan
makin cepatnya perubahan dalam segala bidang kehidupan, akibat dari efek
globalisasi serta perkembangan teknologi informasi yang sangat akseleratif.
Kondisi ini jelas telah mengakibatkan perlunya cara-cara baru dalam menyikapi
semua yang terjadi agar dapat tetap survive. Penekanan akan makin pentingnya
kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu respon dalam menyikapi
perubahan tersebut, dan ini tentu saja memerlukan upaya-upaya untuk meningkatkan
dan mengembangkan SDM.
Sehubungan dengan itu peranan ilmu
pengetahuan menjadi makin menonjol, karena hanya dengan pengetahuanlah semua
perubahan yang terjadi dapat disikapi dengan tepat. Ini berarti pendidikan
memainkan peran penting dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dan
kompetitif. Ketatnya kompetisi secara global khususnya dalam bidang ekonomi
telah menjadikan organisasi usaha memikirkan kembali strategi pengelolaan
usahanya, dan SDM yang berkualitas dengan penguasaan pengetahuannya menjadi pilihan
penting yang harus dilakukan dalam konteks tersebut.
2. Jenis Penerapan Knowledge Management
Perbedaan yang paling signifikan di
antara jenis knowledge ialah tacit versus explicit (Nonaka dan Takeuchi, 1995).
Di dalam organisasi explicit knowledge tidak menjadi masalah karena mudah
didokumentasikan, diarsipkan, dan diberi kode. Di lain pihak, tacit knowledge
merupakan suatu tantangan tersendiri karena pengetahuan sering kali dirasakan
sangat berharga untuk dibagikan dan digunakan dengan cara yang tepat. Pemahaman
akan perbedaan kedua jenis knowledge ini sangatlah penting, dan yang perlu
diperhatikan juga adalah aplikasinya dengan cara yang berbeda untuk memindahkan
jenis knowledge yang berbeda.
2.1. Tacit Knowledge
Pada dasarnya tacit knowledge
bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk
diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al.,2004). Tacit knowledge
tidak dinyatakan dalam bentuk tulisan, melainkan sesuatu yang terdapat dalam
benak orang-orang yang bekerja di dalam suatu organisasi.
Menurut Polanyi (1966) tacit
knowledge secara umum dijabarkan sebagai:
- Pemahaman dan aplikasi pikiran bawah sadar
- Susah untuk diucapkan
- Berkembang dari kejadian langsung dan pengalaman
- Berbagi pengetahuan melalui percakapan (story-telling)
Berdasarkan pengertiannya, maka tacit
knowledge dikategorikan sebagai personal knowledge atau dengan kata lain
pengetahuan yang diperoleh dari individu (perorangan).
2.1.1. Personal Knowledge
Menurut Berkeley (1957, p. 23)
pengetahuan manusia bermula pada saat orang mendapatkan ide dimana kesan
tersebut muncul dari perasaan dan sistem kerja pikiran atau dengan kata lain
ide dibentuk dengan bantuan dari memori dan imajinasi yang menambah, membagi,
mengungkapkan perasaan sebenarnya.
Selanjutnya menurut Bahm (1995, p.
199) penelitian pada sifat dasar pengetahuan seketika mempertemukan perbedaan
antara knower dan known, atau seringkali diartikan dalam istilah subject dan
object, atau ingredient subjective dan objective dalam pengalaman. Pengalaman yang
diperoleh tiap karyawan tentunya berbeda-beda berdasarkan situasi dan kondisi
yang tidak dapat diprediksi. Definisi experience yang diambil dari kamus bahasa
Inggris adalah the process of gaining knowledge or skill over a period of time
through seeing and doing things rather than through studying. Yang artinya
proses memperoleh pengetahuan atau kemampuan selama periode tertentu dengan
melihat dan melakukan hal-hal daripada dengan belajar.
Davenport dan Prusak dalam Martin
(2010, p. 2) mendefinisikan personal knowledge is a fluid mix of framed
experience, values, contextual information and expert insight that provides a
framework for evaluating and incorporating new experiences and information.”
Secara garis besar, berarti gabungan dari pengalaman, nilai – nilai, informasi
kontekstual, dan wawasan luas yang menyediakan sebuah kerangka pengetahuan
untuk mengevaluasi dan menggabungkan pengalaman – pengalaman dan informasi yang
baru.
Menurut Martin (2010), personal
knowledge didapat dari instruksi formal dan informal. Personal knowledge juga
termasuk ingatan, story-telling, hubungan pribadi, buku yang telah dibaca atau
ditulis, catatan, dokumen, foto, intuisi, pengalaman, dan segala sesuatu yang
dipelajari, mulai dari pekarangan hingga pengembangan nuklir.
2.2. Explicit Knowledge
Explicit knowledge bersifat formal
dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al.,
2004). Menurut pernyataan Polanyi (1966) pada saat tacit knowledge dapat
dikontrol dalam benak seseorang, explicit knowledge justru harus bergantung
pada pemahaman dan aplikasi secara tacit, maka dari itu semua pengetahuan
berakar dari tacit knowledge. Secara umum explicit knowledge dapat dijabarkan
sebagai:
- Dapat diucapkan secara tepat dan resmi
- Mudah disusun, didokumentasikan, dipindahkan, dibagi, dan dikomunikasikan
Penerapan explicit knowledge ini
lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau
pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap karyawan dapat mempelajarinya
secara independent.
2.2.1 Job Procedure
Secara terpisah pengertian job adalah
a responsibility, duty or function, dan procedure adalah a formal or official
order or way of doing things. Jadi pengertian job procedure atau prosedur kerja
adalah tanggung jawab atau tugas yang bersifat formal atau perintah resmi atau
cara melakukan hal-hal. Salah satu bentuk konkret dari explicit
knowledge adalah Standard Operation Procedure.
Standard Operation Procedure atau
prosedur pelaksanaan dasar dibuat untuk mempertahankan kualitas dan hasil
kerja. Dengan menggunakan Standard Operation Procedure maka tugas-tugas akan
semakin mudah dikerjakan, juga tamu akan terbiasa dengan sistem pelayanan yang
ada. Disamping itu Standard Operation Procedure diciptakan agar para tamu
merasa nyaman dalam mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan. Standard
Operation Procedure sendiri dalam pelaksanaannya sangat fleksibel karyawan
dapat memberikan masukan berdasarkan pengetahuan yang didapat.
Lebih lanjut menurut Sulastiyono
(2001, p. 244) Standard adalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan derajat
kesesuaian suatu produk, dibandingkan dengan harapan-harapan tamu. Oleh sebab
itu, agar suatu jenis pekerjaan dapat menghasilkan produk yang standard dari
waktu ke waktu, maka cara-cara mengerjakan untuk menghasilkan produk tersebut
juga harus dilakukan dengan cara-cara yang standard pula. Yang dimaksudkan
dengan produk yang standard adalah:
- Memiliki derajat kesesuaian untuk pemakai.
- Setiap jenis produk yang dihasilkan untuk digunakan, secara konsisten memiliki spesifikasi yang sama.
Keuntungan-keuntungan yang dapat
diperoleh dengan adanya atau digunakannya Standard Operation Procedure adalah:
- Mempunyai nilai sebagai alat atau saluran komunikasi bagi manajemen dengan para staf dan para pelaksananya. Melalui Standard Operation Procedure, seluruh staf dan karyawan akan mengetahui secara jelas, berusaha untuk memahami tentang tujuan dan sasaran, serta kebijakan dan prosedur kerja perusahaan. Dengan demikian setiap orang dalam organisasi akan menerima pesan yang jelas dari Standard Operation Procedure tersebut.
- Standard Operation Procedure juga dapat digunakan sebagai alat atau acuan untuk melaksanakan pelatihan baik bagi para staf dan karyawan, serta bagi karyawan baru.
- Standard Operation Procedure dapat mengurangi waktu yang terbuang, dengan demikian diharapkan akan meningkatkan produktivitas kerja baik bagi manajemen ataupun bagi para staf dan karyawan. Apabila tidak tersedia manual pekerjaan, maka bila terjadi sesuatu kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan harus dicari dahulu jalan pemecahannya, atau didiskusikan dahulu dengan rekan sekerja dan atasannya, dan ini berarti membuang waktu. Lain halnya bila cara penyelesaiannya sudah tersedia secara tertulis, maka akan lebih cepat pelaksanaanya dan waktu lebih banyak dihemat, serta dapat lebih dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan lain.
- Dengan dibantu oleh pengawasan yang dilaksanakan dalam proses pekerjaan, maka Standard Operation Procedure dapat dilaksanakan secara lebih konsisten, dan menjamin terciptanya produk yang standar, sekalipun dikerjakan oleh orang-orang yang berbeda dan waktu pelaksanaan yang tidak bersamaan.
2.2.2 Technology
Teknologi merupakan salah satu elemen
pokok yang terdapat pada knowledge management, dikenal sebagai media yang
mempermudah penyebaran explicit knowledge. Berdasarkan pernyataan Gillingham
dan Roberts (2006) awal mulanya knowledge management digerakkan oleh teknologi,
khususnya explicit knowledge yang lebih mudah disusun. Menurut Marwick (2001)
teknologi bukanlah hal baru dalam knowledge management, dan pengalaman yang
telah dibentuk oleh para ahli sebelumnya menjadi bahan pertimbangan
terbentuknya teknologi itu sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu teknologi
yang mendukung knowledge management akan selalu berkembang dalam bentuk
sistem-sistem yang mempermudah proses penyebaran knowledge. Salah satu
teknologi paling mutakhir yang saat ini digunakan oleh banyak perusahaan untukproses
penyebaran knowledge adalah intranet, dimana hal ini didasarkan pada kebutuhan
untuk mengakses knowledge dan melakukan kolaborasi, komunikasi serta sharing
knowledge secara ”on line”. Intranet merupakan salah satu bentuk teknologi yang
diterapkan di Surabaya Plaza Hotel. Intranet atau yang disebut juga internal
internet menawarkan kesempatan untuk menggunakan telekomunikasi yang maju yang
telah dikembangkan dari internet. Menurut pendapat Merali peralatan seperti
intranet dan internet dianggap sebagai sistem knowledge management yang utama
untuk menjalankan dan mendukung forum diskusi dan praktek (1999). Intranet
bukan merupakan jaringan tunggal juga bukan merupakan perangkat yang
menghubungkan jaringan-jaringan seperti internet. Nama intranet digunakan
sebagai perwuju dan dimana standar dan alat- alat dikembangkan dalam internet
digunakan untuk menyimpan dan mengirim data perusahaan kepada pengguna dalam
jaringan internal
3. Elemen Pokok Knowledge
3.1. People
Yang berarti Knowledge Management
berasal dari orang. People merupakan bentuk dasar untuk membentuk knowledge
baru. Tanpa ada orang tidak akan ada knowledge.
3.2. Technology
Merupakan infrastruktur teknologi
yang standar, konsisten, dan dapat diandalkan dalam mendukung alat-alat
perusahaan.
3.3. Processes
Yang terdiri dari menangkap,
menyaring, mengesyahkan, mentransformasikan, dan menyebarkan knowledge ke
seluruh perusahaan dilengkapi dengan menjalankan prosedur dan proses tertentu.
4. Tujuan Penerapan Knowledge Manajemen
Implementasi knowledge management
atau manajemen pengetahuan akan memberikan pengaruh positif terhadap proses
bisnis perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, beberapa manfaat
knowledge management atau manajemen pengetahuan bagi perusahaan antara lain:
- Penghematan waktu dan biaya (dengan adanya sumber pengetahuan yang terstruktur dengan baik, maka perusahaan akan mudah untuk menggunakan pengetahuan tersebut untuk konteks yang lainnya, sehingga perusahaan akan dapat menghemat waktu dan biaya)
- Peningkatan aset pengetahuan (sumber pengetahuan akan memberikan kemudahaan kepada setiap karyawan untuk memanfaatkannya, sehingga proses pemanfaatan pengetahuan di lingkungan perusahaan akan meningkat, yang akhirnya proses kreatifitas dan inovasi akan terdorong lebih luas dan setiap karyawan dapat meningkatkan kompetensinya)
- Kemampuan beradaptasi (perusahaan akan dapat dengan mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang terjadi)
- Peningkatan produktfitas (pengetahuan yang sudah ada dapat digunakan ulang untuk proses atau produk yang akan dikembangkan, sehingga produktifitas dari perusahaan akan meningkat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar